Sejarah asal usul Bahasa Arab
Bahasa Arab merupakan rumpun dari bahasa Semit. Bangsa Semit ini bahasanya dinisbahkan dari putra Nabi Nuh yang bernama Sam ibn Nuh. Garis keturunan Sam inilah yang melahirkan berbagai bangsa dan bahasa, di antaranya bangsa ‘Akkadiyyah, Kan‘an, Ethopiah, Arab dan sebagainya. Namun seiring dengan perjalanan umat manusia dari sekian rumpun bahasa Semit, yang tersisa sampai sekarang hanyalah bahasa Arab, bahasa yang telah memberi pengaruh yang besar dalam sejarah peradaban umat manusia, terutama disaat memasuki abad ke VI masehi sampai sekarang.
Bahasa Semit merupakan sebuah kelompok bahasa yang dipertuturkan oleh lebih dari 200 juta jiwa, terutama di Timur Tengah, Afrika Utara dan Afrika Timur. Rumpun ini merupakan cabang dari rumpun timur laut bahasa Afro-Asia dan merupakan satu-satunya cabang yang juga dipertuturkan di Asia. Bahasa Semit yang paling luas dan paling banyak dipertuturkan adalah bahasa Arab (206 juta), bahasa Amhar (27 juta), bahasa Ibrani (7 juta), dan bahasa Tigrinya (6,8 juta). Bahasa-bahasa Semit termasuk bahasa-bahasa yang sudah awal dituliskan dengan bahasa Akkadia pada awal millennium ketiga SM.
Bahasa Samiyah induk terbagi menjadi dua bagian bahasa, yaitu bagian timur yag terdiri dari Babilonia-Al Asyuriah (Akkadia/Mismariyah). Dan bagian barat yang bercabang diantaranya Aramiyah, Kan’an, dan Arab. Kemudian bahasa Arab bagian selatan yaitu Mu’iniyah, Saba, Hadramaut, Qitbaniyah, Habasyah. Kemudian bahasa Arab bagian utara terbagi menjadi bahasa Arab badiah yang terdiri dari bahasa Tamim dan Hijaz.
Dilihat dari perkembangannya, maka bahasa Arab itu terbagi kepada dua macam:
Al-Arabiyat al-ba’idah dikenal dengan sebutan Arabiyat al-nuqusy (bahasa Arab prasasti), yaitu bahasa Arab yang telah punah. Adapun Arab Al-Baidah adalah ‘Ad, Tsamud, Thasmin, Jadis, Umaima, Jasim, ‘Abil, ‘Abd Dhakm, Jurhum Al-Ula, ‘Amaliq, dan Hadhuran (ash-hâb ar-rass). Semua itu pada akhirnya bernasab pada Iram yakni kaum yang disebut dalam Al-Qur’an, “Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Ad? (yaitu) penduduk Iram (ibukota kaum ‘Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi,” (QS. Al-Fajr [89]: 6-7). Iram juga memiliki banyak anak di antaranya adalah, ‘Ush, Jatsir, Katsir, Ghatsir, Huwil, Hul, dan Masy.
Al-Arabiyat al-Baaqiyah, yaitu bahasa Arab yang masih tinggal atau masih ada sekarang ini merupakan peracampuran dari berbagai macam dialek, yang terletak di bagian selatan Jazirah Arab dan utara. Bahasa Arab Baqiyah adalah bahasa yang dipergunakan secara mutlak oleh bangsa Arab baik dalam tulisan, karangan, kesusastraan dan sebagainya, seperti yang ada sekarang ini. Dan secara langsung dapat kita rasakan dalam al-Qur'an dan al-Hadits.
Bahasa Arab Baqiyah tumbuh dan berkembang di negeri Nejed dan Hijaz. Kemudian tersebar luas ke sebagian besar negeri Semit dan Hamit. Dari sinilah timbul perbedaan. Dialek yang dipergunakan di masa kini di negeri Hijaz, Nejed, Yaman dan daerah sekitarnya seperti Emirat arab, Palestina, Yordania, Syiria, Libanon, Irak, Kuait, Mesir, Sudan, Libia, al-Jazair, dan Maroko.
Bahasa Arab Baqiyah meninggalkan pembebasan kata terhadapnya dan bahasa yang masih digunakan sehari-hari oleh orang-orang di berbagai daerah Arab. Hal itu adalah perpaduan dari berbagai dialek yang berbeda-beda, sebagian besar dari Jazirah Utara, dan sebagian lagi dari Selatan yang bercampur satu sama lain sehingga menjadi bahasa yang satu yaitu (Arab Fushah) yang digunakan sehari-hari dalam beberapa tulisan, pidato, radio, surat kabar, dan sebagainya.
Bahasa Arab Baqiyah terbagi kepada dua bagian, yaitu;
Al-Arab al-Aribah, adalah bangsa arab yang berasal dari keturunan Qahtan. Bani qathan dengan dua suku induknya, Kahlan dan Himyar mendirikan Himyar dan Tababi'at. Disebut dalam al-Qur'an "Tabba". Selain itu mereka pulalah mendirikan kerajaan Saba' kira-kira abad ke- 8 SM. Bani Qahtan inilah yang memerintah semenanjung Arabiyah sesudah al-Arab al-Baidah. Di antara keturunan Qahthan ini yang masyhur adalah Ya’rub, Hadhramaut, ‘Amman, dan Jurhum Ats-Tsaniyah. Ya’rub menetap di Yaman, Hadhramaut tinggal di tempat yang sekarang bernama Hadhramaut, Amman tinggal di wilayah yang sekarang juga dinamai Amman dan Jurhum Ats-Tsaniyah menetap di Hijaz.
Qabilah Jurhum Ats-Tsaniyah itulah yang kemudian mempersatukan dua bangsa yakni antara Qahthaniyah dan ‘Adnaniyah. Nenek moyang ‘Adnaniyah yang awalnya menggunakan bahasa Ibrani, akhirnya belajar bahasa Arab melalui suku Jurhum Ats-Tsaniyah ini. Peristiwa percampuran dua bangsa itu dimulai ketika Ismail as. tumbuh dewasa dan menikah dengan salah satu putri pemimpin suku Jurhum yakni Ri’lah binti Madhadh ibn ‘Amru Al-Jurhumi. Dari pernikahan keduanya lahir 12 anak yakni Nabit, Qidar, Adbil, Mubsim, Musymi’, Dauma, Dawam, Masa, Haddad, Tsitsa, Yathur, dan Nafisy.
Al-Arab al-Musta’ribah. Bangsa Arab Al-Musta’rabah adalah keturunan Ismail as. atau sering disebut sebagai ‘Adnaniyah. Bani Adnan tingal di Hijaz, Nejed dan Tihamah. Bani ini mempunyai empat suku induk yaitu Rabi'ah, Mudhar, Iyad dan Anmar. Dari kabilah Adhan ini lahirlah beberapa kabilah, di antaranya Lahillah, kabila bani Kinanah yang selanjutnya melahirkan kabilah Quraisy Mereka adalah bangsa dari keturunan ‘Adnan, Nazar, dan Ma’add. Disebut dengan Al-Musta’rabah karena mereka berafiliasi dengan Arab Al-‘Aribah dengan cara pernikahan. Pernikahan pertama kali yang mereka adakan dengan Arab Al-‘Aribah adalah antara Ismail as. dan Ri’lah binti Madhadh ibn ‘Amru Al-Jurhumi yang kemudian melahirkan 12 anak. Dua anak yang paling populer dan menghasilkan generasi terbanyak adalah Nabit dan Qidar.
Mengenai nasab Arab Al-Musta’rabah ini, ada beberapa berbedaan pendapat satu sama lain. Bahkan, perbedaan mereka sangat banyak. Hingga dalam menyebut nama orang saja, berbeda antara satu sama lain. Menariknya, perbedaan semacam ini tidak ada di nasab Qahthaniah. Mengingat Arab Al-Musta’rabah ini awalnya berbahasa Ibrani sedangkan Arab Al-‘Aribah memang dari awal adalah nenek moyang bangsa Arab yanag asli sehingga perbedaan bahasa dalam menyebut nama adalah hal yang lumrah.
Untuk menyelesaikan polemik antara sejarawan ini kuncinya adalah yang penting urutan nasab sampai Ma’ad ibn ‘Adnan ini benar. Sebab, sampai di Ma’ad ibn ‘Adnan ini sejarawan tidak berbeda dalam penyebutan nama dan urutan nasabnya. Adapun ‘Adnan ke atas dengan urutan bagaimanapun dan penyebutan nama bagaimanapun, intinya berhenti di Isma’il ibn Ibrahim as. Menurut Ibnu ‘Asakir dan Ibn Sa’d, Nabi saw. sendiri tidak pernah melanjutkan nasabnya melebihi Ma’ad ibn ‘Adnan. Setiap kali sampai di Ma’ad ibn ‘Adnan beliau berhenti dan berkata, “Orang-orang ahli nasab itu banyak yang berbohong (dengan nasab yang mereka buat hingga sampai pada Adam as.)

0 Komentar